Hari ini menjadi hari yang penting untuk diingat oleh diriku, bukuku pertama, akhirnya terbit!

Menulis buku adalah hal yang aku impikan sedari dulu. Meski bukan prioritas utama, dalam diriku, aku memegang satu hal yang lalu aku genggam: apa pun profesiku nanti, bergelut di bidang apa pun aku nanti, aku harus tetap menulis.

Bagiku, buku adalah ibarat prasasti. Mencermati buku sama seperti mencermati candi yang bercokol. Manusia di masa depan, dapat mengetahui bagaimana manusia di masa sekarang dengan apa yang tertulis saat ini. Setiap rajutan huruf yang menjadi kata dan kalimat, menginterpretasikan manusia yang menuliskannya. Apa yang tengah terjadi saat ini, bisa diketahui oleh manusia di masa yang akan datang.

Pengertian tersebutlah yang membuat aku, sejak duduk di bangku SD, ingin sekali menjadi pelaku pencatat masa — dengan menulis. Mengabadikan keadaan dunia semasa aku hidup, adalah hal yang aku inginkan, sembari berharap pada generasi pelanjutku ke depan supaya membaca setiap “tanda-tanda” yang nyata sehingga belajar dari kesalahan-kesalahanku atau generasi di masa hidupku.

Menulis adalah hal yang sepele, namun tidak sesederhana itu. Meski tidak berwujud benda yang mewah, sebuah buku (menurut hematku) bahkan lebih berharga ketimbang sebongkah emas, karena aku sangat menghargai iktikad baik sang penulis di balik buku yang ditulisnya. Kukagumi para penulis yang dengan tulus menyampaikan pesan, nilai, dan kesaksiannya sebagai pelaku sejarah di hidupnya masing-masing.

Namun, ada terang ada gelap, ada putih ada hitam, jika ada niat baik ternyata adapula niat yang tidak baik. Maraknya penulis yang sengaja menulis buku untuk membiaskan ideologi juga mengancam. Banyak pula buku-buku yang kontradiktif dan menyebarkan isu-isu kurang baik. Maka dari itu, penulis yang memiliki integritas diperlukan di negara ini yang notabene penduduknya mudah tersusupi ideologi radikal.

abdiguru.com

Buku Jagat Kiai Tanjung terbit tanggal 17 Agustus 2017

Harapanku, buku pertamaku yang berjudul Jagat Kiai Tanjung ini bisa beguna dan bermanfaat untuk semua pembacanya, termasuk diriku sendiri sebagai penulisnya. Buku pertamaku tersebut, kudedikasikan kepada Guruku tercinta, Bapak Kiai Tanjung. Sejak dulu, kutetapkan dalam hati, jika esok aku diberi kemauan dan kemampuan untuk menulis buku, buku pertamaku haruslah tentang Guruku di masa itu. Kini, alhamdulillah, pangestu Guru, salah satu keinginanku tersebut telah mampu aku wujudkan.

Buku Jagat Kiai Tanjung yang akan terbit besok, tepat hari Kamis, 17 Agustus 2017, akan menjadi saksi bisu atas mengadanya sosok yang luar biasa, Bapak Kiai Tanjung. Dalam keyakinanku, sosoknya bukan hanya sebagai Kiai pada umumnya, akan tetapi sebagai hudan yang menerangi hidupku dan umat. Dalam keyakinanku pula, sosoknya adalah sosok Imam yang memimpin umat di zaman ini. Sosok Bapak Kiai Tanjung adalah sosok yang (menurutku) akan membuat Nusantara berevolusi besar-besaran — dan sebelum itu, gonjang-ganjing dunia akan terjadi. Apa wujud gonjang-ganjing tersebut?

Menulis Jagat Kiai Tanjung telah memberiku segudang pengalaman tersendiri. Dalam perjalanannya, kutemui banyak hal yang menggodaku,menghambatku, menjatuhkanku, mendorongku, dan sebagainya. Sehingga, sering sekali aku berpikir untuk, ah, sudahlah, kuhentikan saja menulis buku ini! Tapi, teman-temanku selalu mendorongku untuk meneruskan menulisnya. Bagi mereka, aku harus menulis buku tentang sosok Bapak Kiai Tanjung, karena buku tersebut bukan perihal sekadar berkarya, namun “mandat” banyak orang.

Menurut mereka, buku tersebut harus benar-benar selesai lantaran kepentingan banyak orang, bukan pribadiku. Harus ada yang berani menuliskannya. Setiap kali kuhentikan menulisku, mereka pasti akan marah dan memaksaku segera menyelesaikannya. Dalam proses penulisannya, aku sedikit tersiksa: takut jika terjadi kesalahan yang berdampak fatal sehingga memengaruhi keselamatanku setelah mati kelak. Namun, teman-temanku punya cara dan metode yang lihai sehingga aku mampu selesaikan penulisan buku Jagat Kiai Tanjung — meski mungkin memang ada kesalahan teknis dan non teknis di dalamnya.

Tujuh belas Agustus 2017, momen yang tepat untuk menerbitkan buku tersebut. Aku berdoa, tanggal 17 Agustus besok adalah momen kebangkitan nasional atas segala sisinya. Aku berharap, publik menjadi tahu akan sosok Bapak Kiai Tanjung. Jujur dan membuka diri, mengakui bahwa negara saat ini butuh seorang pahlawan yang meloloskan bangsa dari konflik dan belenggu. Kuyakin dan percaya pada Bapak Kiai Tanjung, beliau adalah sosok yang mampu memberikan perubahan.

Jagat Kiai Tanjung tidak akan mampu mewakili luasnya samudra dan jagat Bapak Kiai Tanjung, jadi jika kamu adalah pembaca buku tersebut dan ingin mengenal sosok beliau lebih detil, silakan langsung sowan atau bertemu kepada beliau di kediaman beliau — di Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda), desa Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Tidak pernah kusangka, bahwa besok (17/08/2017) aku akan menerbitkan buku pertamaku: Jagat Kiai Tanjung. Bukan berniat menghargai diri sendiri atau segan terhadap diri sendiri, aku betul-betul tidak menyangka bahwa keinginanku sejak dulu dapat terwujud. Meski, ini baru awal, dan masih banyak lagi impian-impianku yang belum tercapai, hingga ke tahap ini, aku sudah sangat bersyukur sekali.

Apalah dayaku jika tanpa Tuhan dan Guruku yang senantiasa membimbingku. Guruku yang selalu menguatkanku untuk terus berjuang di dalam hidupku sendiri supaya menjadi manusia yang bermanfaat untuk lingkungan dan keluarga. Dengan dorongan spirit tersebut, setiap malam kusisihkan waktu sejam-dua jam untuk menulis buku tersebut. Di sela-sela kuliah dan pekerjaanku yang menumpuk, kukumpulkan bahan-bahan tulisan: mendengar kajian Bapak Kiai Tanjung secara live atau pun via Youtube, membaca tulisan-tulisan Bapak Kiai Tanjung, dan lain-lainnya. Tak terasa, mulai dari bab 1 hingga 5 dapat terselesaikan.

Setiap matahari terbit pasti akan tenggelam dan akan terbit keesokan harinya. Artinya, cakra buana tak pernah berhenti berputar. Begitu pula dengan diriku. Inovasi-inovasi, kreatifitas, ide-ide tidak boleh terhenti. Akitivitas juga tidak boleh berhenti. Jika buku pertama telah terbit, sekarang aku mulai fokus menatap buku-buku selanjutnya yang harus kutulis.

Mohon doa restu semuanya yang membaca tulisan ini, buku selanjutnya adalah ber-genre  fiksi: Novel. Fiksi adalah cara yang tepat untuk menyebarkan nilai kebaikan dan luhur tanpa menggurui. Kuniatkan dalam bukuku selanjutnya untuk juga menyebarkan nilai-nilai yang tengah “kuperjuangkan”. Jadi, tunggu saja bukuku yang kedua, ya?

Sebelum kuakhiri tulisan hari ini, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Guruku, Bapak Kiai Tanjung yang telah membimbing dan terus memberi dorongan untuk berjuang. Kedua, bapak dan ibuku yang sedari dulu sayang terhadapku, memeliharaku dari nol hingga sekarang. Bapak-ibu yang sabar membesarkanku — yang nakal, bawel, rewel, dan sering membuat kecewa — kuucapkan beribu terima kasih dan ampun atas kesalahanku selama ini. Betapa tidak tahu dirinya aku, betapa bodohnya aku, dan betapa aku adalah anak yang sama sekali belum bisa berbuat apa-apa untuk bapak dan ibuku. Kemudian, kuucapkan terima kasihku kepada teman-temanku seperjuangan, yang dengan sabar berjuang survive  –menggenggam bola api — dalam hidup, yang berjuang terus untuk tetap dalam iman meski tekanan dan keadaan zaman yang kian mencekik. Terima kasihku kuucapkan kepada teman-temanku yang selalu support dan mendukungku, bahkan tak segan-segan membantuku meski tak dapatnya kubalas dengan apa pun: materi atau pun moril.

Dengan senang hati, kuhaturkan buku pertamaku untuk Anda semua….!

Abdiguru.com

Buku Jagat Kiai Tanjung, terbit tanggal 17 Agustus 2017